Sabtu, 19 Mei 2012

SEJARAH GEREJA SANTO YUSUP WONOKERSO
1.Kebun anggur Tuhan
     Sejarah Gereja Stasi Santo Yusp Wonokerso dimulai pada bulan Mei 1956 seorang Guru SD Kanisius, yaitu Bp, Yohanes De Brito Wasto membuka pelajaran agama katholik di Wonokerso di rumah Bp. Marto Wasito (mBah Bulu) pelajaran agama diikuti oleh Bp. Marto Wasito sekeluarga dan beberapa tetangga dekat.
     Mereka diperbolehkan menerima sakramen permandian pada tanggal 21 Desember 1957 di Kamal (dekat Wonokerso). Sakramen permandian diberikan oleh Romo Fred Sutimbal Mitro Sudarmo SJ dari Muntilan. Walaupun mereka sudah dipermandikan, namun pelajaran agama tetap berlangsung dibawah bimbingan Bp. YB. Wasto, satu-satunya katekis pada waktu itu. Dibawah Bp. YB, Wasto berkembang ke desa-desa lain diantaranya: Gondang Culengan, Galokan, Karangsambung, Piyungan dan Paitan. Melihat perkembangan yang menggembirakan Romo Mitro menganggap bahwa Wonokerso dan sekitarnya merupaka kebu anggur yang subur.
     Berhubung umat katlolik semakin bertambah, maka mesti dipikirkan tempat ibadah yang nantinya Romo dapat mempersembahkan misa bersama umat setiap bulan. Gagasan ini muncul dari Romo Mitro dan Bapak YB. Wasto.
     Peralatan misa yang ada pada waktu itu masih sangat sederhana altar yang ada dibeli dengan cara gotong royong umat: Bapak. Y. Marsudiharjo, Bapak YB. Sugeng, Ibu Somawiyata, Ibu Sumadi, Bapak Y. Sumarsono dan bapak Martowasito.
     Romo Mitro mulai memberikan pelajaran agama pada bulan Oktober 1958 sekaligus memberikan Misa. Pelajaran agama dan Misa ini baru bisa diadakan sekali dalam setiap bulannya. Kesempatan tersebut juga dipakai oleh Romo Mitro untuk bertemu dengan  umat dan sebaliknya.
     Kebun anggur Tuhan semakin subur dan berkenbang ini nampak dengan semakin bertambahnya orang yang mengikuti pelajaran agama. Sehingga pada hari raya Natal dan Paskah rumah Bapak Martowasito sebagai tempat pertemuan dan ibadah semakin padat dan tidak muat. Melihat keadaan ini pada bulan Oktober 1959 Romo Mitro menyarankan kepada umat untuk mendirikan sebuah kapel saran diterima dengan senang hati dan penuh semangat.

2.Sejarah bedirinya Gereja Santo Yusup Wonokerso.
     Berawal dari kunjungan Bapak Uskup Sugiyo Pranoto ke Dusun Kamal pada tahun 1942 yang waktu itu sebagai Stasi dan perjalanannya Bapak Uskup ke Desa Gondang lahirlah ucapan dari Bapak Uskup bahwa di daerah ini (Wonokeso) akan bediri Gereja Katholik, maka dari sebuah ucapan Bapak Uskup sampai dengan pembangunan Gereja baru terlaksana tahun 1961.
     Untuk mewujudkan adanya sebuah Gereja maka pada tahun 1958 terbentuklah sebuah panitia pendirian Gereja dengan personel: Penasehat Romo Mitrosudamo SJ, Ketua Bapak Y. Sumadi, bendahara Bapak Y. Martowasito dan Bapak Y. Sumarsono.
     Sebagai tempat untuk pendirian Gereja ditetapkan di Dusun Wonokerso karena dipandang sebagai daerah “subur”. Untuk mewujudkan cita-cita itu sangat terlihat peran serta umat. Setiap selesai ibadah pada hari minggu umat beramai-ramai terjun kesungai untuk mengambil pasir dan batu.
     Untuk dapat melibatkan peran serta seluruh umat, terutam yang bekerja diluar daerah maka kepada mereka ini dimintai sumbangan. Dengan demikian merekapun ikut berbagi rasa dengan umat yang berada di Wonokerso dalam usaha membangun gedung gereja.
     Sumbangan yang terkumpul digunakan untuk membeli bahan-bahan bangunan seperti : batu merah, kayu dan kapur. Pengadaan kayu diserahkan bapak Sudirnggo dari Gondang Galokan yang membeli kayu dari daerah Randublatung dan pengolahannya diserahkan bapak Basri dari Muntilan yang pada waktu itu sebaggai pelaksana pembangunan.
     Yang menjadi masalah waktu itu adalah bagaimana mendapatkan ggenting, rama Mitro punya sahabat dari Sawangan yang pada saat itu tinggal di Kudus yaitu bbapak Harto. Rama Mitro bersama panitya menemui bapak Harto di Kudus dan menyampaikan maksud pendirian gereja. Pada saat itu bapak Harto sempat ragu karena daerah Sawangan waktu tidak mendukung (daerah perjudian). Setelah diberikan penj3elasan panjang lebar dan juga harapan-harapan masa depan bapak Harto akhirnya setuju membantu dalam bentuk genteng.
     Masalah lain muncul karena belum Ada batu merah, untuk mengurangi beban biaya panitya membeli batu bata yang masih mentah. Tetapi muncul kesulitan dari mana kayu untuk membakar batu bata tersebut. Karena rasa tanggung jawab sebagai umat tterhadap gerejanya bapak Sumarsono menyanggupi menyediakan kayu baka, tidak hanya itu bapak Marsono juga menyediakan bambu yang digunakan dalam membangun.

3. Riwayat Tanah
     Tanah tempat pendirian gereja berawal dari tanah bapak Martowasito yang ditukar dengan tanah yang berada didesa Mungkid, agar dikemudian hari tidak terjadi salah paham. Tanah yang dimungkid sampai dengan sekarang adalah tanah yang didirikan gerja,

4. Pemilihan Nama Pelindung
     Setiap gereja mempunyai nama pelindung yang mmempunyai arti tersendiri bagi gereja yang bersangkutan. Untuk memilih nama pelindung harus mengetahui latar belakang sejarah. Nama pelindung gereja stasi Wonokerso dipilih nama SANTO YUSUP, pemilihan nama tersebut berkaitan terkbulnya doa novvena kepada SANTO YUSUP, nama Santo Yusup dirayakan oleh gereja setiap tanggal 19 Maret
5. Pemberkatan Gereja
     Pada waktu pemberkatan gereja para penyumbang diundang, sekaligus sebagai ucapan terima kasih, hasdir pula para tokoh masyarakt, pejabat Desa, pejabat Kecamatan dan juga pejabat Kabupaten. Pemberkatan dilakukan oleh Mgr. Albertus Sugiyopranoto SJ Uskup Agung Semarang pada tanggal 19 Maret 1961.
Dalam pemberkatan tersebut Uskup bberpesan: “ Gunakanlah sebaik-baiknya dan peliharalah dengan semestinya gedung ini. Semangat dan gerejamu inilah yang harus kamu bina dan kamu kobarkan terus”.

6. Renovasi Gereja
     Gereja Santo Yusup Wonokerso mengalami beberapa tahapan renovasi, renovasi besar dimulai pada tanggal 1 Mei 1999 panitia mulai melaksanakan renovasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Namun dalam perjalanannya renovasi tersebut timbul 2 permasalahan besar:
  1. Terjadi krisis moneter yang langsung berdampak pada kenaikan harga bahan bangunan sehingga berakibat rencana anggaran menjadi sangat tidak sesuai.
  2. Pada tahapan pelaksanaan pembangunan setelah atap diturunkan dan melaksanakan pekaerjaan pembobokan tembok dinding untuk pemasangan cor kolom penyangga kuda-kuda ternyata tembok kondisinya sudah sangat rapuh, sehingga panitia mengkaji ulang renovasi atap dan akhirnya direncanakan renovasi total.
Dalam kurun waktu yang begitu lama tenyata renovasi belum selesai (4 tahun) dan ternyata renovasi baru selesai 70 %.
Renovasi total selesai pada bulan April tahun 2007 atas bantuan Bp. Edi dari Wanasri.




ROMO-ROMO YANG PERNAH BERKARYA DI STASI SANTO YUSUP WONOKERSO.

  1. Rm. F. Mitro Sudarmo SJ tahun 1961 – 1964
  2. Rm. Suryo Subroto Pr  tahun 1964 – 1968
  3. Rm. D. Windyo Wiryono Pr tahun 1968 – 1973
  4. Rm. E. Rusgiharto Pr tahun 1973 – 1974
  5. Rm. Cokro SJ
  6. Rm.  L. Smith SJ tahun 1975 – 1981
  7. Rm.  Jaya Sewaya
  8. Rm. T. Sumarman tahun 1981 – 1985
  9. Rm. M. Sriyanto SJ tahun 1985 – 1988
  10. Rm. Wiyono Haryadi SJ tahun 1988 – 1989
  11. Rm. Alex Dirdjo tahun 1989
  12. Rm Titus Cokroprayitno SJ tahun1989 – 1982
  13. Rm. Harjo SJ tahun 1992 - 1995
  14. Rm. Wiharjono
  15. Rm. Giyono Pr tahuin 1995 – 1998
  16. Rm. Iswahyudi Pr
  17. Rm. Wahyo Suharyatmo tahun 1998 – 2002
  18. Rm. Heru Subiakto tahun 2001 -2006
  19. Rm. R. Sapto Nugroho Pr tahun 2002 -2009
  20. Rm. M. Supriyanto Pr tahun 2006 s/d sekarang
  21. Rm. Agustinus Tejo Kusumantono Pr tahun 2009-

Sumber:
  1. Bp. YB. Wasto
  2. Bp. A. Ngalijan
  3. 25 Tahun Gereja Stasi Santo Yusup Wonokerso
  4. Proposal pembangunan Gereja Stasi Santo Yusup Wonokerso
  5. Sejarah Paroki Santo Kristoforus Banyutemumpang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar